Never thought that I could be a teacher.. Never realized that it's such a precious duty..
Sunday, December 14, 2014
Saya dan Bahasa Inggris (Part 1)
Sebetulnya tidak hanya Bahasa Inggris/English yang saya sukai; sebenarnya saya suka semua bahasa asing. Saya pernah belajar tata bahasa Jepang, Jerman, Gaelic dan juga mungutin frase2 bahasa asing lainnya sekedar untuk nambahin ilmu pengetahan.
Kenapa English, karena negeri kita ini dikepung konsumsi bahasa tersebut mulai dari buku, film, lagu, dsb. Demi hal-hal itu lah saya memberi perhatian lebih dengan English. Lagi pula bahasa itu indah untuk mengungkapkan perasaan dan juga hal-hal lain. Sayangnya, dulu di kota kelahiran saya, bule itu jarang banget, jadi sulit untuk berinteraksi langsung. Internet juga belum ada. Hanya bisa cari sahabat pena (ciaaa dah lama ga denger istilah itu!) dari luar negeri untuk ngasah ilmu; ujung2nya high cost karena perangkonya mahal.
Saya kurang suka belajar English yang pake kaset (terbawa hingga sekarang walau sudah ada MP3 dsb) karena selain dulu termasuk mahal untuk anak sekolah, saya juga ga suka kemasannya kaya kaku gitu. Sukanya nonton atau denger lagu aja. Siaran khusus belajar English di TV juga kurang menarik bagi saya dulu.
Sekarang sbg guru English --dimana profesi ini bagi saya ibarat tersesat di jalan yang benar, saya menemukan kesulitan dalam mengajar. Ternyata kemudahan saya mempelajari English lebih dilandasi oleh keinginan untuk mengetahui isi buku/film/lagu dan juga ada passion thd bahasa tsb. Sedangkan kebanyakan siswa-siswa saya mempelajari English karena kewajibannya sebagai pelajar, tujuannya untuk mendapat nilai.
Saya bingung. Kondisi ini bukan seperti kondisi saat saya mulai belajar English. Sebagai guru, saya nyaris menemukan jalan buntu. Kegiatan belajar yang menyenangkan terus terang boros waktu, sedangkan banyak sekali kompetensi dasar yang harus guru kejar. Maka --diam-diam saja ya, saya tidak lagi menggunakan silabus; melainkan mengajak anak belajar semampunya saja. Salah ya? Iya. Tapi daripada pelajaran mengejar standar tapi ujung2nya mental, ga masuk ke kepala anak, gimana?
(end of part one)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment