Sitta Basoeki ~ The Open Doors
Never thought that I could be a teacher.. Never realized that it's such a precious duty..
Sunday, December 14, 2014
Galau English Teacher
Communicative competence diklasifikasikan empat model utama, yaitu grammatical, sociolinguistic, discourse dan strategic competence, yg mana akan mendasari jenis2 silabus. Kompetensi yg dikehendaki Pusat Kurikulum sih mengacu pada knowledge, skill dan attitude, dimana dampak pembelajaran meliputi sisi cognitive, pshycomotoric dan affective (taksonomi Bloom). Tp 'lucunya', teaching materials digunakan HANYA untuk mencapai indikator-indikator, hal ini berimplikasi pada betapa guru harus merencanakan bahan ajar dan aktifitas yg bertujuan agar siswa memperoleh pengalaman berkomunikasi, sehingga objektif-objektif pembelajaran dapat tercapai. Objektif tsb adalah prioritas guru dan guru tidak lagi harus memikirkan grammar atau vocab apa yang harus diajarkan.
Namun bukankan tanpa pengetahuan grammar yg mendasar, pembelajar bahasa asing bisa dibilang tidak mendapat apapun yg lebih dari kumpulan frase-frase komunikatif? Dan tak sadarkah bahwa Pusat Kurikulum (2001) sendiri telah mematok jumlah vocab mastery (SD=900 kata, SMP=1500 kata, SMA=4000 kata)? Kalau (mau) dilihat lg, silabus grammatical/structural itu TIDAK HARUS berorientasi grammar, silabus ini berbicara ttg bagaimana materi ajar disusun dan tujuan akhirnya tetap communicative competence. Pusat Kurikulum menginginkan interaksi belajar mengajar tidak lagi hanya dievaluasi berdasarkan produk (=nilai siswa), namun juga dari proses yaitu melalui assessment, monitoring dan recording kemajuan/progress siswa dalam belajar berupa portfolio setiap siswa. Hal ini berkaitan dengna pengertian bahwa siswa diharapkan dapat belajar dengan kecepatannya sendiri (tentu juga dengan panduan dari guru); dalam hal ini guru harus senantiasa mengembangkan assessment-nya agar dapat lebih memperlihatkan progres siswa. Siswa yg cepat bisa ikut akselerasi, sdgkn yg lambat ikut remedi.
Menggembirakan, bahwa pendidikan kita tyt berkiblat pada holistic evaluation. Namun tak sadar kah, berapa perbandingan jam tatap muka thd standar-standar kompetensi dan kegiatan yg harus dilaksanakan? Berapa perbandingan siswa yg sehari-harinya cukup terpapar dengan Bahasa Inggris (atau malah Bahasa Indonesia, mengingat penggunaan bahasa daerah tetap menduduki posisi puncak di banyak tempat) dg yg tidak?
Tak bisa kah para petinggi disana mencantumkan secara jelas vocab apa yg mesti dikuasai tiap jenjang pendidikan sehingga tidak terjadi bias karena lack of grouping n sequencing? Atau bila mmg tujuan negara ini menginginkan lulusan sekolah yg ber-lifeskill, coba dikaji apakah syarat kelulusan saat ini benar-benar ditentukan sebuah evaluasi dari 'acquiring' atau kah 'learning'? Toh tetap utama yg dilihat baik dalam kelulusan maupun saat melanjutkan ke jenjang yg lebih tinggi adalah SCORE, bukan portfolio. Dan apakah 'learning' itu demikian buruk, dan 'acquiring' itu yg paling baik? Apakah tidak ada kekuatiran anak-anak bangsa ini tidak menguasai ilmu secara utuh, karena hanya melulu memungut serpih-serpih ilmu tersebut itu saja di sekolah Apakah kurangnya lifeskill benar-benar kesalahan sistem belajar yg lebih konservatif?
Syahdan, hadirlah Kurikulum 2013 yang cukup antusias kupelajari, siapa tau memberi angin segar dan inspirasi. Namun beberapa hari lalu pun Kurikulum 2013 yang baru satu semester kami jalankan ternyata kena "banned" oleh Meteri Pendidikan yang baru, dan sekolah-sekolah yang baru satu semester jalaninnya mesti kembali ke Kurikulum 2006. What the?!!
#saya galau
#bigdeal
Saya dan Bahasa Inggris (Part 1)
Sebetulnya tidak hanya Bahasa Inggris/English yang saya sukai; sebenarnya saya suka semua bahasa asing. Saya pernah belajar tata bahasa Jepang, Jerman, Gaelic dan juga mungutin frase2 bahasa asing lainnya sekedar untuk nambahin ilmu pengetahan.
Kenapa English, karena negeri kita ini dikepung konsumsi bahasa tersebut mulai dari buku, film, lagu, dsb. Demi hal-hal itu lah saya memberi perhatian lebih dengan English. Lagi pula bahasa itu indah untuk mengungkapkan perasaan dan juga hal-hal lain. Sayangnya, dulu di kota kelahiran saya, bule itu jarang banget, jadi sulit untuk berinteraksi langsung. Internet juga belum ada. Hanya bisa cari sahabat pena (ciaaa dah lama ga denger istilah itu!) dari luar negeri untuk ngasah ilmu; ujung2nya high cost karena perangkonya mahal.
Saya kurang suka belajar English yang pake kaset (terbawa hingga sekarang walau sudah ada MP3 dsb) karena selain dulu termasuk mahal untuk anak sekolah, saya juga ga suka kemasannya kaya kaku gitu. Sukanya nonton atau denger lagu aja. Siaran khusus belajar English di TV juga kurang menarik bagi saya dulu.
Sekarang sbg guru English --dimana profesi ini bagi saya ibarat tersesat di jalan yang benar, saya menemukan kesulitan dalam mengajar. Ternyata kemudahan saya mempelajari English lebih dilandasi oleh keinginan untuk mengetahui isi buku/film/lagu dan juga ada passion thd bahasa tsb. Sedangkan kebanyakan siswa-siswa saya mempelajari English karena kewajibannya sebagai pelajar, tujuannya untuk mendapat nilai.
Saya bingung. Kondisi ini bukan seperti kondisi saat saya mulai belajar English. Sebagai guru, saya nyaris menemukan jalan buntu. Kegiatan belajar yang menyenangkan terus terang boros waktu, sedangkan banyak sekali kompetensi dasar yang harus guru kejar. Maka --diam-diam saja ya, saya tidak lagi menggunakan silabus; melainkan mengajak anak belajar semampunya saja. Salah ya? Iya. Tapi daripada pelajaran mengejar standar tapi ujung2nya mental, ga masuk ke kepala anak, gimana?
(end of part one)
Saturday, August 31, 2013
Blog ttg Education n Teaching
Blog yg satu ini untuk apa ya? Secara yg sitta.blogspot.com udah dibersihin n siap diisi lagi dg posting yg sifatnya lebih ke kehidupan, hobi n apa aja yg berhubungan dg diri pribadi. Mungkin yg satu ini untuk ttg education n teaching aja kali ya? We'll see..
Subscribe to:
Comments (Atom)